Minggu, 06 Mei 2012

Apakah Arti Tritunggal Bagi Kaum Nazrani (Kristen)?

Apakah istilah "Tritunggal" berarti pengikut Nabi Isa percaya kepada tiga tuhan?
           
Banyak orang, termasuk orang Nazrani sulit memahami konsep Trinitas, atau Tritunggal pada Tuhan Allah.  Memang kesulitan ini tidak mengherankan.  Ingatlah bahwa kita, yang diciptakan, berusaha memahami hal-hal yang paling dalam tentang keberadaan Pencipta kita.  Memang kalau kita mengatakan bahwa kita memahami hal ini dengan sempurna berarti kita sudah menganggap diri lebih besar dari Yang Mahabesar sendiri.   Kita hanya dapat "menjamah rumbai jubahNya" dari pada rahasia yang kudus ini.  Semua harus setuju bahwa Tuhan Allah tidak pernah dulu, tidak sekarang dan tidak akan berada sebagai "tiga" tuhan yang bersatu menjadi satu.  Ide ini sangat bertentangan dengan iman orang Nazrani yang mengerti dan percaya Kitab Suci. 


Bagaimana orang Nazrani percaya pada Tuhan Allah yang Maha Esa?  Tuhan Allah bukan persatuan, melainkan Kesatuan.  Dia berbeda daripada segala sesuatu yang ada karena Dialah Pencipta dan Pemula dari semua di alam semesta.  Sebagaimana Tuhan Allah sekarang, Dia begitu dari dulu dan akan selalu begitu karena Dia Abadi, Kekal. Dia tidak dibatasi oleh demensi waktu, yang juga merupakan sebagain dari ciptaanNya.  Kita semua dapat setuju bahwa Tuhan Allah Maha Kudus, Maha Benar, Maha Kasih, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Hadir.  Pada Dia tidak ada sedikitpun kepasluan, dosa, penipuan atau kekurangan.  Daftar pujian ini tidak ada akhirnya.  Tuhan Allah tidak terbatas oleh apapun juga selain DiriNya Sendiri.  Tidak ada yang mustahil bagiNya.  Dia tidak dapat dipahami oleh akal-budi manusia.  Dia Maha Esa, namun Dia tidak dapat dihitung.  Dalam bahasa kita ada banyak hal yang tidak dapat dihitung, misalnya air, udara, listrik.  Walaupun air ditemukan di mana-mana kita tidak memakai istilah "air-air", Itu tetap air saja, bentuk tunggal.  Sama juga kesatuan dan keEsaan Tuhan Allah tidak disangkal oleh karena Dia berkanan berhubungan dengan kita melalui ketiga cara berada.


Apakah konsep Tritunggal berarti Tuhan Allah dapat berubah-ubah menjadi bentuk lain, yaitu Bapa, Anak dan Roh'ul Kudus?

Banyak orang dengan lari dari kepalsuan "tiga tuhan" ingin memeluk ide itu.  Akan tetapi konsep ini juga tidak sesuai dengan Injil yang Kudus.  Tentu saja pada waktu Isa di dunia ini, tahta Surga tidak kosong.  Kita dapat membaca di Kitab Injil bahwa Isa, sebagai manusia sejati sering berdoa kepada Tuhan Allah Bapa.  Tritunggal tidak berarti Tuhan dapat mengganti peran seperti seorang aktor di sandiwara, atau mengganti fungsiNya seperti mengganti topeng.  Di Injil, Tuhan Allah yang Esa ada pada tiga cara berada, tiga pribadi yang berbeda.  Namun satu kehendak, satu persekutuan di dalam DiriNya Sendiri.  Kalau Tuhan Allah Maha Kasih, apakah yang dikasihiNya sebelum alam semesta diciptakanNya selain Dia Sendiri.  Maka dalam ayat yang berbunyi, "Allah adalah Kasih" (Kitab Injil: Surat Yohanes Pertama 4:16) disitulah salah satu kunci pemahaman konsep Tritunggal.

Bukankah konsep Tritunggal berasal dari dewan gerejani pada abad keempat?

Orang Kristiani percaya kepada Tuhan Allah yang selalu berada sebagai Tritunggal, tiga cara berada, yang disebut Bapa, Anak atau Putra dan Roh'ul Kudus, masing-masing menyatakan intisari atau pokok Ke-Tuhanan.  Sejak dahulu Tuhan Allah senantiasa menyatakan Diri sebagai Tritunggal kepada umat manusia.  Doktrin Tritunggal ini tidak berasal dari sebuah dewan pemimpinan gereja, namun berasal dari pengalaman umat Nazrani, mulai dengan jemaat yang pertama di Yerusalem.  Mereka mengalami Tuhan Allah pada diri mereka sendiri dengan tiga cara berada.  Mereka yakin bahwa masing-masing dari cara berada ini sungguh nyata dan benar-benar Tuhan Allah, yaitu Pencipta, Juru Selamat dan Penopang.  Tetapi mereka tetap meyakini Tuhan Allah tetap Esa, kesatuan.  Masing-masing cara berada ini tidak didahului oleh yang lain, dan tidak dibatasi oleh yang lain.

Bagaimana seseorang menjadi yakin tentang keberadaan Tritunggal Tuhan Allah?


Memang semua ini sulit difahami.  Sekali lagi, kita yang diciptakan berusaha memahami sesuatu yang tidak ada bandingnya, yaitu Tuhan Allah, Pencipta, Juru Selamat dan Penghibur kita.  Dia unik dan tunggal, jadi bagaimana kita dapat membandingkanNya dengan apapun? Semua anologi dan perumpamaan kalah ahkhirnya.  Kita hanya dapat memulai mengerti cara bagaimana Dia berhubungan dengan kita.  Kita dapat memahamiNya hanya dengan membuka diri kita agar Dia mendiami hidup kita dan berkerja melalui kita. Kemudian dalam pengalaman pribadi, dipimpin oleh Roh'ul KudusNya Sendiri melalui FimanNya yang Hidup, kita menjadi yakin tentang rahasia yang benar dan kekal ini, yaitu Tuhan Allah yang MahaEsa dan Tritunggal. 


Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman TUHAN.

Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah Firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi Ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepada-Nya.

Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan.

Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.                ( Kitab Nabi Yesaya 55: 6 – 13 )
Amin!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar