Salib, sebuah lambang dari kematian dan hukuman yg sangat menerikan dan menjijikan serta yg paling hina yg pernah dicatat dalam sejarah, sebab yg dihukum dengan hukuman mati diatas kayu Salib pastilah orang dengan catatan krimal yg tidaklah pendek dan pastinya dibenci begitu banyak orang, namun mengapa Salib kemudian dipakai sebagai Lambang keKristenan? Siapakah dan Apakah mereka begitu bodohnya ingin menjatuhkan Kristen dan kepercayaannya hingga menggunakan hal ini?

Di dalam sejarah Gereja pada tahun 312, Kaisar Flavius Valerius Constantinus, atau yang lebih dikenal dengan nama Konstantin I atau Konstantin Agung (Constantine The Great), bertempur dan mengalahkan musuh yang paling utama, yaitu kaisar atau panglima yang bernama Maxentius. Setelah mengalahkan orang ini, ia memasuki kota Roma dengan kemenangan yang besar dan megah. Di dalam sejarah Gereja juga kita tahu (khususnya dari Eusebius), Konstantin mengalahkan musuh-musuhnya dengan dua tanda yang ia dapatkan dengan tiba-tiba. Menurut kesaksian Eusebius, pada tanda pertama Konstantin mengatakan, bahwa pada suatu siang hari ia melihat salib Kristus di balik cahaya matahari yang begitu terang dan menyilaukan. Pada salib itu, ia melihat munculnya tulisan yang dalam bahasa Yunani: en touto nika, yang artinya: "by this [sign] conquer", atau: "Dengan tanda ini taklukkanlah." Maksudnya, taklukkanlah musuh-musuhmu. Kemudian pada kejadian atau tanda kedua, sejarah juga mencatat, pada malam sebelum pertempuran yang terakhir dan menentukan itu, ia bermimpi melihat tanda X (chi) dan p (rho)
_I_193_1.jpg)
Beberapa ratus tahun setelah Konstantin, sejarah seperti ini terulang kembali. Di dalam sejarah Gereja ada satu masa di mana orang-orang Kristen bertempur habis-habisan dan memasuki pertempuran yang paling tragis, paling brutal dan paling sia-sia, yaitu Perang Salib. Di dalam Perang Salib yang berlangsung hampir 200 tabun dan sampai beberapa generasi itu, orang-orang Kristen dari kerajaan-kerajaan besar di Eropa, menaklukkan musuh-musuhnya. Mereka bukan hanya menaklukkan saja, tetapi mereka menjarah, menyita, membunuh dan menanamkan kebencian kepada golongan bangsa atau umat beragama lain, yaitu Muslim. Dan yang paling tragis bagi kita (sebagaimana yang dicatat di dalam buku sejarah Gereja tulisan Wilston Walker, A History of the Christian Church), di dalam perang salib itu, serdadu-serdadu Kristen menjahitkan lambang salib pada pakaian mereka ("a cross sewn to their clothing") dan dipakai sebagai lambang pertempuran.
Melalui khotbah-khotbahnya tentang salib para Paus
telah membakar semangat prajurit Romawi untuk maju berperang dengan
Islam-Turki. Hal ini dikenal dengan skisma besar antara Kristen-Islam
pada abad 11-12 M yang tercatat di dalam sejarah gereja sebagai
peristiwa perang salib yang berlangsung hampir selama 200 tahun
(1096-1291 M).
- Perang Salib I terjadi pada tahun 1096-1099 M.
- Perang Salib II pada tahun 1147-1149 M.
- Perang Salib III pada tahun 1189-1192 M.
- Perang Salib IV terjadi pada 1202-1204 M.
- Perang Salib Anak-Anak terjadi di tahun 1212 M.
- Perang Salib V pada tahun 1218-1221 M.
- Perang Salib VI terjadi pada tahun 1228-1229 M.
- Perang Salib VII pada tahun 1248-1254 M
- Perang Salib VIII terjadi di tahun 1270 M.

Sejarah mencatat bahwa perang salib telah membuktikan
2 hal: pertama, kegagalan para pemimpin gereja pada waktu itu; kedua,
tanda salib menjadi tanda kekuasaan dan keangkuhan bagi para
pemimpin gereja dan negara pada waktu itu.
Salib telah menjadi lambang kebencian bagi umat beragama yang lain. Salib telah menjadi simbol penaklukan, penjarahan, pembunuhan, penganiayaan dan terutama ekspansi teritorial. Memikirkan hal ini, jangan heran kalau di dalam situasi sekarang banyak orang yang tidak suka pada orang Kristen dan Kekristenan. Dimana Kekristenan yang tidak memakai salib? Hampir semua Gereja tidak ada yang tidak memakai tanda salib. Dan bila dihubungkan dengan sejarah Gereja, mengenai Konstantin, perang salib, dan barangkali juga zaman penjajahan yang pernah dialami di Indonesia, kita jangan terlalu menyalahkan orang-orang yang ada Indonesia kalau mereka membenci salib. Sebab, di dalam sejarahnya, banyak orang memakai salib dengan cara yang salah.
Pada tahun 788 M, ditetapkan sebuah aturan
"penyembahan terhadap salib". Peristiwa ini dimulai oleh Dowager Irene
dari Konstantinopel, yang kemudian prosesi ini menjadi keputusan di
dalam konsili gereja yang ditetapkan oleh Paus Hadrian I dari Roma.
Sejak saat itu, ritual penyembahan terhadap salib mulai dilakukan. Walker berkata, "orang-orang Kristen dini bahkan
menolak salib karena (berwatak) pagan. Patung-patung Isa mula2 tidak
menggambarkan dia di atas salib, tetapi dalam samaran "Gembala yang
Baik" yang membawa domba." (Acharya, The Christ Conspiracy)
Orang Kristen non Yahudi abad pertama tidak mau
memakai simbol salib tetapi simbol ikan yang disebut ICHTYS
yang dalam
bahasa Yunani berarti Ikan. hal ini berkaitan dengan Sabda Isa kepada Muridnya Simon yg juga disebut Petrus yg berprofesi sebagai nelayan yg kesehariannya menjala ikan namun diminta untuk mengikut Isa menjadi Penjala Manusia. Sehingga Simbol pertama yg dikenal pada sebutan gereja Mula - Mula yaitu simbol ICHTYS.

Sekalipun demikian dengan berkembangnya waktu simbol salib lama kelamaan diterima juga tetapi dicampur dengan ICHTYS. Akhirnya simbol ICHTYS hilang total dan kembali pada
simbol mesir kuno. Sangat tragis sekali, ada banyak orang - orang Kristen yang
memakai simbol salib harus mati dianiaya, simbol yang tidak pernah kitab
suci tuliskan. Kalau begitu apa sebenarnya simbolnya orang Kristen itu?

Apa yang dipahami Isa sungguh sangat kontras dengan yang dipahami orang kebanyakan orang. Isa tahu benar, untuk apa Ia harus mati dikayu salib yaitu mengenapkan rancangan keselamatan bagi umat manusia yang percaya kepadaNya. Manusia tidak perlu untuk mengerti apa yang dipikirkan Allah, yang perlu bagi manusia adalah menjalankan perintah-Nya "siapa yang ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya". Melalui penyangkalan diri dan pikul salib kita belajar untuk memiliki kerendahan hati, ketaatan dan kasih, sehingga kita dapat memahami bahwa Salib meretas penderitaan menuju keselamatan.
Sedangkan dari Alkitab kita tahu bahwa Paulus mengindikasikan salib sebagai simbol kelemahan. Juga pada waktu Isa disalibkan, kita dapat melihat seorang manusia sejati yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Simbol kelemahan yang paling lemah itu dapat dikatakan sebagai simbol kegagalan. Simbol kegagalan, kelemahan dan ketidakberdayaan, dan sebaliknya, bukan simbol kekuatan. Waktu Isa disalib, tidak ada perkataan yang lebih indah pada waktu Ia mengatakan: "Bapa, ampuni mereka." Ini adalah spiritualitas yang sesungguhnya dari kekristenan, yaitu spiritualitas di dalam kelemahan dan ketidakberdayaan. Orang Kristen diajar untuk mengampuni, mengasihi, tidak menjadi marah, membalas, menganiaya, atau menunjukkan power kalau kita dirugikan dan dianiaya. Kristus sudah mengajarkannya demikian. Dan kalau kita meneladani Kristus, yang juga Paulus teruskan dan ajarkan, bahwa salib itu adalah kelemahan, kita akan memiliki spiritualitas yang sejati seperti Isa. Karena dengan spiritualitas seperti ini, kita dimampukan untuk melayani semua orang, bahkan yang tidak layak dilayani sekalipun.

Kekristenan? Saya heran melihat itu. Justru Tuhan membiarkan kematian-kematian dan kelemahan-kelemahan terjadi di dalam sejarah Gereja. Tetapi spiritualitas yang sejati justru timbul dari sana Gereja dibangun, meluas dan meragi ke seluruh dunia sewaktu cara salib ditampilkan di dalam kelemahan dan bukan kekuatan manusia.
Di sini kita akan memikirkan: apa itu salib? Apa artinya bagi kita? Jangan sampai kita mengalami kekeliruan di dalam membawa, mengumandangkan atau memberitakan salib Kristus. Kita sering membawa nama-nama Kekristenan, Kristus dan Kristen. Ada juga yang memakai simbol salib sebagai hiasan dan sebagainya. Namun jangan sampai kita salah mengerti tentang salib.
Semoga Membantu menambah pemahaman Saudara dan Tuhan Memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar